SELAMAT DATANG DI WEBSITE POMPARAN RAJA SIGALINGGING

   WEBMAIL

 

Links

  WEBMAIL

  BATAK-USA

  DANAU-TOBA

  HKBP

  BATAK-TOP

  PARSAHUTAON

  MILIS

  BONAPASOGIT

  BATAK-UK



BOA & BOA

Nama
 
Email 


 



 

 BUAYA SIGALINGGING 

   

BUAYA SIGALINGGING (sumber : ucok sigalingging)

Sekitar tahun 1970, ada seorang tua berumur sekitar 70 tahunan, Simanjuntak marga orang tua ini. Bapak ini mendatangi kediaman boru Sigalingging yaitu Ompu Tao Baru yang tinggal di Pasar Pringgan Medan Baru. Ketika itu Ompu Tao Baru memang jadi tempat bertanya bagi mereka yang membutuhkan. Pak Simanjuntak menerangkan maksud dan tujuan kedatangannya. Begitu seriusnya ,,,,,, mendengar penjelasan Pak Simanjuntak, Ompo Tao Baru teringat kejadian-kejadian yang pernah ia alami dan disaksikannya langsung yaitu “Habonaran” (Kebenaran / the truth ) nenek kita.

Perasaan Ompu Tao Baru sangat terkejut tentang “ Habonaron jala Halongangon” (Kebenaran dan Keajabaian) apa yang telah dilakukan oleh “Hula-Hula” ku marga Sigalingging kepada Pak Simanjuntak ini sehingga ia begitu yakin dan percaya kepada ku padahal kami hanya tinggal perempuan. Ompu Tao Baru dengan tekun mendengarkan cerita dari Pak Simanjuntak tentang cerita “BUEA SIGALINGGING – SIAMBATON “, . Mendengar cerita tersebut Ompu Tao Baru teringat kembali ketika mereka masih tinggal di Sibolga sekitar tahun 1950. Ompu Tao Baru sudah pernah mendengar kisah ini dari Amanta Sigalingging/br Hutagalung ( A. Nurmian). Kala itu, setiap kepergian atau pulang SIAMBATON dari/ke Barus atau Manduamas kalau tidak ada lagi penyeberangan seketika itu muncul Buaya Putih dipinggir laut . Mereka naik ke punggung buaya putih tersebut dan buaya putih itu mengantarkan mereka ke seberang.

Pada tahun 1999, ketika itu Panitia Tarombo Marga Sigalingging (DR.Ir. M. Sigalingging) menugaskan team agar pergi ke kampung untuk mengumpulkan semua bukti-bukti sejarah maupun hikayat yang pernah ada.

Ketika team sampai di Barus / Manduamas mereka langsung menanyakan kepada tokoh masyarakat maupun turunan marga PARNA yang ada disini tentang kebenaran hikayat Buaya Putih. Tetapi pada umumnya mereka tidak mengingat lagi hikayat ini. Hanya mereka berkata : bahwa benar ada sebongkah batu dipinggir laut dan dari sini lah buaya putih itu dipanggil kalau hendak diberi makan berupa padi muda yang digonseng terlebih dahulu kemudian ditabur kelaut. Dulu marga Munthe yang sering memberi makan buaya putih ini, namun diatas tahun 60 an sampai saat ini hal ini tidak pernah dilakukan lagi sebab buaya putih itu tidak pernah muncul .

Ketika itu di Barus tinggal Ompunta Marga Sigalingging, ompung ini sangat tersohor diseantero Barus/Manduamas dia merupakan pedagang kapur Barus yang cukup terkenal kemana-mana. Ompunta in sangat kaya, namun seorang pemain judi. Ompunta ini dikaruniai tujuh orang anak, dimana anak yang paling sulung mengidap satu penyakit, sekujur tubuhnya hanya berupa daging sehingga tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Akibat dari perbuatan Ompunta yang suka berjudi menyebabkan hutangnya menumpuk dan sudah tidak sanggup untuk membayarnya. Rasa penyesalan timbul dibenak Ompunta. Kemudian anak sulungnya bertanya apa sebenarnya yang terjadi kenapa semuanya mereka menjadi susah. Ompunta kemudian menjelaskan semua duduk perkara yang sedang mereka hadapi. Mendengar penuturan Ompunta anaknya terkejut namun tetap tenang lalu ia berkata :” kalau masih ada ladang kita agar Kapur barus itu saja yang dibuat untuk membayarnya”. Ompunta menjawab : “ ladang kita masih ada namun tidak bisa lagi diandalkan untuk menghasilkan kapur barus karena sudah tidak terurus ”. Namun anak sulungnya masih etetap tenang lalu berkata :” kalau Tuhan berkenan semua yang tidak mungkin bagi manusia adalah mungkin bagiNya”.

Kemudian anak sulungnya ini memerintahkan agar adik-adiknya membawa dia ke ladang, dan dia berkata :” kalian harus memberi tanda dimana nanti aku menunjuk sebab disitulah ada “Kapur BArus” yang harus kamu ambil”. Sampai diladang dia menunjuk keberbagai arah dan benar terdapat Kapur Barus. Adik-adiknya terkejut sekaligus gembira melihat kejadian ini. Setelah berjalan dua bulan ladang yang mereka beri tanda masih tetap menghasilkan bahkan masih banyak lagi yang belum mereka panen.

Beberapa lama kemudian abangnya berkata kepada adik-adiknya :” kalian sudah cukup lama membawa aku bolak-balik dari rumah ke ladang dan menurutku aku lebih baik tinggal diladang sendirian tapi kalian haruis buatkan aku tempat tinggal modelnya seperti perahu”. Berita ini sampai ke Ompunta, dia tidak tega membiarkan anak sulungnya untuk tinggal diladang sendirian, namun dia tidak bisa menolak permintaan anak sulungnya. Akhirnya adik-adiknya jadi membuatkan tempat tinggal untuk abangnya sesuai dengan permintaanya dan tinggal sendirian di ladang.

Seetelah ia tinggal di ladang adik-adiknya masih tetap datang untuk mengambil kapur barus sekaligus memberikan makanan setiap hari.

Akhirnya hutang Ompunta semua terbayar, namun kapur barus mereka masih tetap banyak. Kemudian ompunta membuat pesta sebagai ucapan terima kasih, makan, minum dan gondang hingga mereka mabuk-mabukan. Ompunta lupa kepada anak sulungnya yang tinggal di ladand sendirian.

Walaupun dia sendirian dan tidak ada berita kepadanya namun dia mengetahui bahwa Ompunta sedang membuat pesta di kampung, sebenarnya dia sangat ingin ikut dalam pesta tersebut untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas ,berkat yang Ia berikan kepada keluarga Ompunta. Pada saat itu perasaannya begitu sedih sangat sedih melihat sikap orang tua dan adik-adiknya.

Setelah pesta usai, para undangan pulang ke rumahnya masing-masing tinggallah orang tua dan adik-adiknya, mendadak mereka mengingat anak sulungnya yang diladang tidak makan bahkan tidak ikut pesta padahal kalau bukan karena usaha dia mereka sudah pasti tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sangat menyesal dan kemudian mereka mempersiapkan makanan dan minuman yang hendak dibawa keladang, sesampai diladang adik-adiknya menyerahkan makanan tersebut dan abangnya berkata :” kalian sudah lupa samaku, setelah usai pesta dan tinggallah sisa makanan itu yang kalian berikan padaku”. Adik-adiknya semua terdiam, tidak mampu berkata sepatah katapun, sebab mereka menyadari kesalahanya. Kemudian abangnya menyuruh adik-adiknya segera pulang ke kampung mengingat cuaca yang sudah mulai mendung.

Setelah adik-adiknya pulang, dia menangis tersedu-sedu : oh,, bapak/ibu yang kusayangi kenapa nasib ku begini, hidup seakan tidak berguna ,,,,

Tidak berapa lama setelah dia berdoa tiba-tiba hujan turun dengan deras dibarengi dengan bunyi petir yang bersahut-sahutan. Siang malam hujan turun tanpa hentinya, sementara orang tuanya sangat khawatir atas diri anak sulungnya. Setelah beberapa hari hujan pun reda dan orang tuanya menyuruh agar pergi mencari abangnya. Pagi siang malam dan dari hari ke hari mereka terus mencari namun abangnya tidak pernah ditemukan.

Kemudian orang tuanya bermimpi,, di dalam mimpinya anaknya yang sulung berkata agar jangan mencari dia lagi,, kalau mereka ingin berjumpa dia mengajukan syarat , orang tuanya harus memberitahukan kepada semua turunannya.

Setelah bertahun-tahun kejadian ini berlangsung ,,,,,,,,,,

Suatu ketika ,,,,, marga Rambe/Pasaribu menyerobot tanah marga Sigalingging/Siambaton sehingga mereka berkelahi. Untuk menyelesaikan masalah ini mereka sepakat membawa kasus ini kepada raja-raja adapt dan pemerintah setempat kala itu. Maka di undanglah Residenti Tapanuli di Sibolga, pegawai Controleur, tokoh masyarakat, raja-raja adat serta Pak Simanjutak yang disebutkan diatas cerita ini.

Kemudian dilaksanakan rapat besar persis di tepi laut dekat tanah yang jadi persengketaan mereka.

Rapat dibuka kemudian salah seoarang tokoh menanyakan kepada marga Rambe/Pasaribu : “bagaimana menurut kalian tentang status tanah ini ?”, marga Rambe/Pasaribu menjawab : “ bahwa tanah ini merupakan tanah leluhur nenek moyang kami yang diberikan secara turun termurun kepada kami”. Kalau begitu siapa yang bisa menjadi saksi atas ucapan kalian tersebut kata tokoh masyarakat itu. Tidak ada, tapi benar tanah itu memang milik leluhur kami kata marga Rambe/Pasaribu.

Kepada marga Sigalingging : “bagaimana pendapat kalian tentang tanah yang jadi persengketaan ini ?” , Tanya tokoh masyarakat. “tanah itu adalah tanah leluhur kami dari dulu hingga sekarang “, jawab marga Sigalingging. “Siapa yang bisa menjadi saksi atas ucapan kalian “, tanya tokoh itu kembali. “Ada, yang mulia, nanti dia akan hadir disini”, jawab marga Sigalingging.

Mendengar jawaban tersebut tokoh itu kelihatan marah dan berkata :” berapa lama kami akan menunggu kedatangan saksi kalian ?”. Kemudian marga Sigalingging menjawab :” sabar yang mulia, dia akan hadir sebentar lagi”, sambil berkata demikian marga SIgalingging berkemas-kemas mempersiapkan “ulos Sibolang “ yang dibentangkan dari pinggir pantai sampai ke lokasi rapat diadakan dimana jumlah ulos Sibolang ini adalah ganjil. Semua yang hadir di tempat tersebut heran, raja mana gerangan yang akan hadir dari tepi pantai padahal disana sama sekali tidak ada perahu.

Setelah semua beres kemudian marga Sigalingging berdoa dan memohon agar dia datang ,,,,,,,,,,

Tak berapa lama keluar seekor buaya dari tepi pantai berjalan diatas ulos Sibolang,, buaya itu sangat besar dan panjang . Buaya itu berjalan mengikuti marga Sigalingging /Siambaton dari belakang sambil memakan sirih yang diberikan. Sebagian dari yang mengikuti rapat takut dan lari menghindari buaya tersebut, namun marga Sigalingging melarang :”kalian jangan takut sebab buaya tidak ganas”.

Para hadirin terkejut melihat kejadian ini , “rasanya seperti mimpi melihat kejadian itu, aku tidak pernah menyaksikan kejadian seperti ini sebelumnya”, kata Pak Simanjuntak.

Melihat kejadian tersebut akhirnya para tokoh masyarakat, tokoh adat dan pemerintah memutuskan bahwa tanah yang menjadi persengketaan antara marga Rambe./Pasaribu dengan Sigalingging/Siambaton dimenangkan oleh marga Sigalingging/Siambaton

Note : tanpa mengurangi makna aslinya hikayat Buaya Sigalingging ini merupakan hasil terjemahan dari tulisan dalam bahasa Batak Toba yang ditulis oleh Bpk. M.Ch. Sigalingging ( Ompu Shindak )